El Nino Picu Kekeringan, Dinas Pertanian Donggala Jelaskan Kondisi Tanaman dan Upaya Antisipasi

Berita, Donggala9 Dilihat

Donggala, Majalahsinergitas.id – Fenomena El Nino yang membawa musim kemarau panjang membuat sejumlah petani di Kabupaten Donggala merasa cemas akan kondisi tanaman mereka. Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Donggala, Anhar, memberikan penjelasan lengkap mengenai dampak yang terjadi, kondisi tanaman, serta langkah yang telah disiapkan pemerintah daerah, Senin (14/9/2026).

Menurut Anhar, kendala utama yang dihadapi petani saat ini adalah penurunan ketersediaan air di lahan persawahan. Tanaman padi yang ditanam sebelum masuk musim kemarau kini mengalami kekurangan pasokan air, padahal fase pertumbuhannya sangat bergantung pada ketersediaan air yang cukup.

“Kami telah mengantisipasi kondisi ini dengan mendorong penggunaan pompa air dan alat pengangkat air (alkon) untuk mengambil air yang sudah menyusut ke lapisan yang lebih dalam. Permintaan bantuan alat irigasi sederhana ini paling banyak datang dari wilayah Kecamatan Dampelas, sedangkan di Kecamatan Sojol jumlahnya relatif lebih sedikit,” jelas Anhar.

Ia menambahkan, kondisi tanaman sangat bergantung pada jenis komoditas dan usia tanamannya. Untuk padi, risiko kegagalan paling besar menimpa tanaman yang baru berumur sekitar satu bulan, tepat saat kebutuhan air sedang tinggi namun pasokan justru berkurang drastis. Sebaliknya, tanaman yang sudah mendekati masa panen masih bisa diharapkan hasilnya, terutama karena petani melakukan penanaman secara bertahap.

Sementara itu, komoditas jagung menunjukkan ketahanan yang lebih baik. “Jagung yang sudah berumur 70 hingga 80 hari dan sudah berbuah relatif aman meski cuaca panas. Namun, jika jagung baru berumur sekitar 30 hari saat musim kemarau tiba, kemungkinan besar akan mengalami kegagalan panen,” urainya.

Kondisi ketersediaan air juga berbeda antar wilayah. Di beberapa daerah seperti Desa Sumari, saluran irigasi sudah lama rusak sehingga petani sejak awal memilih menanam jagung yang lebih tahan kekeringan. Perbaikan jaringan irigasi di wilayah tersebut pun sedang dalam proses pengusulan agar ketersediaan air dapat terjamin di masa mendatang.

Berdasarkan data BMKG, bulan September ini diprediksi menjadi puncak kemarau akibat El Nino. Pihak Dinas Pertanian saat ini masih memantau perkembangan kondisi lahan untuk menentukan jumlah pasti luas lahan yang mengalami kegagalan panen. Sebagian petani masih berusaha menyelamatkan tanaman dengan berbagai cara, sementara sebagian lainnya sudah tidak memiliki akses air sama sekali.

“Tanaman padi memang paling berat merasakan dampak ini karena sifatnya yang membutuhkan air dalam jumlah banyak. Kami berharap fenomena El Nino segera berakhir dan curah hujan kembali normal, agar petani Kabupaten Donggala terhindar dari kerugian besar akibat gagal panen,” pungkas Anhar.(Alir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *