Perkuat Daya Tahan Ekonomi Sulteng, BI Tekankan UMKM dan Digitalisasi Sebagai Pilar Pertumbuhan Berkelanjutan

Berita54 Dilihat

Palu, Majalahsinergitas.id — Bank Indonesia menegaskan bahwa penguatan daya tahan ekonomi daerah menjadi keharusan di tengah dinamika pertumbuhan ekonomi global yang berfluktuasi. Digitalisasi dan penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dinilai sebagai kunci utama agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi, tetapi juga berkelanjutan dan memberikan dampak luas bagi kesejahteraan masyarakat.

Penegasan tersebut menjadi pesan utama dalam kegiatan Posalia Sulteng Digifest 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sulawesi Tengah di Atrium Palu Grand Mall, Selasa (11/8/2026). Kegiatan mengusung tema “Akselerasi Ekonomi Daerah dan Digitalisasi untuk Pertumbuhan Berkelanjutan”.

Hadir dalam kegiatan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes., yang mewakili Gubernur Sulawesi Tengah, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, Anggota Komisi XI DPR RI, Muhidin Mohammad Said,  Anggota DPRD Sulteng Hendri Kusuma Muhidin, wakil Walikota Palu Imelda Liliana Muhidin, wakil bupati Donggala Taufik Muhamad Burhan serta Kepala KPwBI Sulawesi Tengah, Muhammad Irfan Soekarna.

Dalam sambutannya, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menyampaikan tiga pokok pikiran utama: pentingnya momen penguatan ekonomi daerah, komitmen Bank Indonesia, serta harapan ke depan.

Pertama, kehadiran seluruh pemangku kepentingan pada momen ini menjadi sangat penting karena Sulawesi Tengah tengah berupaya melakukan diversifikasi pertumbuhan ekonomi. Tidak lagi bertumpu semata pada sektor pertambangan, melainkan terus memperkuat daya tahan ekonomi secara menyeluruh.

“Kita baru saja mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen dan tingkat pengangguran terbuka sebesar 5,06 persen. Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus bergejolak, kemampuan kita menjaga ketahanan ekonomi domestik menjadi sangat krusial. Kondisi ekonomi Sulawesi Tengah saat ini masih terjaga dengan baik, bahkan menjadi satu-satunya provinsi yang meraih apresiasi pencapaian inflasi terbaik dari Kementerian Dalam Negeri. Ini adalah modal berharga untuk membangun ekonomi yang lebih baik dan berdaya tahan,” ujar Aida.

Tema kegiatan yang memfokuskan pada penguatan UMKM, transformasi digital, dan sistem pembayaran nontunai pun dipilih sebagai jawaban atas tantangan sekaligus peluang yang dihadapi daerah.

Pada poin kedua, Aida menegaskan bahwa sektor UMKM kini telah menjadi kekuatan utama yang tidak tertandingi dalam perekonomian nasional.

“UMKM sudah tidak ada lawannya. Sektor ini menyumbang sekitar 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap lebih dari 90 persen tenaga kerja, dan hal yang sama berlaku di Sulawesi Tengah,” tegasnya.

Dari laporan KPwBI Sulawesi Tengah, tercatat lebih dari 150 pelaku UMKM telah dibina dan menunjukkan kemajuan yang signifikan. Bank Indonesia menegaskan komitmennya mendukung pengembangan UMKM melalui pendekatan KKP — Kapasitas, Kualitas, dan Korporatisasi:

– Peningkatan Kapasitas: Membantu UMKM naik kelas melalui peningkatan kemampuan manajerial dan kualitas produk.
– Korporatisasi: Mendorong pengelolaan usaha yang lebih terstruktur agar memenuhi syarat pembiayaan, berkembang hingga mampu menembus pasar ekspor.
– Akses Pembiayaan: Memfasilitasi ketersediaan skema pembiayaan yang terjangkau bagi pelaku usaha.

Selain penguatan kapasitas usaha, Bank Indonesia juga mendorong transformasi digital melalui perluasan pemanfaatan QRIS sebagai standar pembayaran nasional. Hal ini didukung pula dengan kehadiran sistem pembayaran BIPAS yang beroperasi 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, dengan biaya transaksi hanya Rp2.500 per transaksi.

Selain itu, dukungan promosi pasar juga terus diperluas. Segera akan digelar Pekan QRIS Nasional bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, serta pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) yang akan digelar di Jakarta mulai Agustus 2026. Aida mengajak seluruh pelaku UMKM Sulawesi Tengah untuk turut serta memanfaatkan momentum tersebut guna memperluas jangkauan pasar hingga tingkat nasional.

Terakhir, Aida mengingatkan makna nama kegiatan “Posalia” yang berarti pesta rakyat, kegotongroyongan, dan kebersamaan. Oleh karena itu, kemajuan ekonomi tidak dapat dicapai sendirian.

“Untuk membawa Sulawesi Tengah maju, kita harus membawa UMKM-nya maju terlebih dahulu. Kita harus bertransformasi secara digital, menjawab tuntutan zaman, dan melangkah bersama-sama. Semoga seluruh upaya yang kita bangun bersama senantiasa diberkahi dan disempurnakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa,” pungkas Aida. (cK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *