Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026: Sinergi BI dan TNI AL Perkuat Kedaulatan Mata Uang di Wilayah Kepulauan Strategis Sulawesi Tengah

Berita14 Dilihat


Parigi Moutong, Majalahsinergitas.id – Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sulawesi Tengah menggandeng TNI Angkatan Laut secara resmi melepas pelaksanaan Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026, sebuah agenda strategis untuk menjamin ketersediaan dan kelayakan edar mata uang negara hingga ke wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T) di Provinsi Sulawesi Tengah. Kegiatan pelepasan dilaksanakan di Komando Lanal Palu, dengan rute pelayaran yang akan menempuh lima pulau strategis mulai tanggal 7 hingga 13 Juli 2026.

Upaya ini merupakan implementasi nyata amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang sebagaimana telah disempurnakan melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK), sekaligus perwujudan nota kesepahaman antara Bank Indonesia dan TNI Angkatan Laut.

Acara pelepasan dihadiri oleh perwakilan tertinggi unsur pemerintahan, pertahanan, keamanan, dan lembaga terkait, antara lain:

– Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Sulawesi Tengah, Dr. H. Rudi Dewanto, S.E., M.M. (mewakili Gubernur Sulawesi Tengah);
– Komandan Korem 132/Tadulako, Brigjen TNI Suntara Wisnu Budi Hidayanta, S.H., M.Sc., P.Sc. (mewakili Pangdam XIV/Hasanuddin);
– Komandan Lanal Palu, Kolonel Marinir M. Ali Wardhana, S.E., M.Tr.Opsla., M.M.;
– Bupati Kabupaten Parigi Moutong, H. Erwin Burase, S.Kom;
– Perwakilan Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Rachmatsya Tawainella (Komisi IIb);
– Dirpolairud Polda Sulawesi Tengah, Kombes Pol Suprianto, S.I.K., M.H. (mewakili Kapolda Sulteng);
– Asops Danguskamla Koarmada II, Kolonel Laut (P) Dwi Herdian;
– Komandan KRI Lumba-lumba 881, Letkol Laut (P) Salus Yustian H.P.;
– Perwakilan Asops Kasal, Mayor Laut (P) Dwi Sulistyo;
– Asisten Direktur Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Albert Mario Davidson;
– Serta jajaran Forkopimda Kabupaten Parigi Moutong, Kepala Kejaksaan Negeri Parigi Moutong, perwakilan pelabuhan, pemimpin perbankan daerah, pejabat Bank Indonesia dan TNI AL, serta awak media.

Kepala KPwBI Sulteng Muhamad Irfan Sukarna dalam sambutannya menyampaikan bahwa,
Rupiah bukan sekadar instrumen pembayaran yang sah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), melainkan simbol fundamental kedaulatan negara, identitas kolektif bangsa, dan perekat persatuan nasional. Oleh karenanya, pemenuhan kebutuhan uang yang cukup, layak edar, dan berkualitas di seluruh penjuru wilayah—termasuk pulau terluar dan perbatasan—merupakan mandat konstitusional sekaligus kebutuhan strategis untuk menjaga keutuhan ekonomi dan kedaulatan negara.

Pelaksanaan tugas ini menghadapi tantangan struktural yang melekat pada karakteristik geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, yaitu: ketersebaran wilayah di ribuan pulau, keterbatasan infrastruktur logistik di wilayah 3T, serta dinamika kawasan perbatasan yang berbatasan dengan sebelas negara berdaulat dengan keragaman mata uang mitra. Untuk menjawab tantangan tersebut, sinergi dengan TNI Angkatan Laut yang memiliki kemampuan jangkauan maritim menjadi solusi strategis yang relevan dan berkelanjutan.

Lebih jauh Irfan Sukarna menerangkan bahwa, Kolaborasi antara Bank Indonesia dan TNI Angkatan Laut telah berjalan secara konsisten sejak tahun 2012. Hingga akhir tahun 2025, kemitraan ini telah merealisasikan 150 kegiatan layanan kas keliling yang menjangkau 766 pulau di seluruh Indonesia. Secara khusus, pelaksanaan Ekspedisi Rupiah Berdaulat pada tahun 2025 telah menembus 18 provinsi dan 91 pulau 3T, dengan total nilai penukaran uang mencapai Rp154,4 miliar, yang disertai edukasi kebijakan moneter, layanan kesehatan, bantuan sosial, serta penguatan nilai bela negara.

Kinerja dan dampak strategis program ini telah meraih pengakuan global melalui penghargaan Currency Initiative pada ajang 11th Annual Central Banking Awards di London, tahun 2024. Penghargaan ini mengukuhkan keunggulan model kolaborasi lintas sektor dalam mengatasi hambatan geografis, menjamin akses keuangan dasar, serta memperkuat posisi Rupiah sebagai simbol kedaulatan di wilayah perbatasan.

Pada tahun berjalan, cakupan Ekspedisi Rupiah Berdaulat diperluas secara signifikan, direncanakan berlangsung sebanyak 19 kali kegiatan di 19 provinsi dengan target jangkauan hingga 97 pulau kategori 3T.

Untuk wilayah Provinsi Sulawesi Tengah, ekspedisi akan berlayar menggunakan KRI Lumba-lumba 881 menuju lima pulau terluar strategis, yaitu Pulau Wakai, Walea, Salakan, Banggai, dan Bokan. Kegiatan ini didukung modal kerja penukaran uang sebesar Rp12,24 miliar, atau meningkat sebesar 16 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. Selain layanan penukaran uang layak edar, agenda ini mencakup:

– Edukasi program Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah serta pemahaman peran kebanksentralan;
– Bantuan sosial berupa paket kebutuhan pokok dan dukungan pemenuhan gizi anak;
– Pemeriksaan kesehatan gratis bekerja sama dengan dinas kesehatan daerah.

Tim pelaksana melibatkan 15 pegawai “Pejuang Rupiah” dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah serta tujuh kantor perwakilan daerah lain dan kantor pusat.

Secara historis, wilayah Sulawesi Tengah memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan kedaulatan ekonomi bangsa, di mana masyarakat setempat telah turut menggunakan Obligasi Republik Indonesia (ORI) dan Obligasi Republik Indonesia Daerah (ORIDA) sejak masa perjuangan kemerdekaan. Peran strategis ini kini dilanjutkan melalui jaminan akses mata uang negara yang merata hingga ke wilayah kepulauan.

Muhamad Irfan menyampaikan bahwa Keberhasilan program ini tidak dapat dijalankan secara parsial, melainkan membutuhkan dukungan terpadu dari seluruh pemangku kepentingan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Sinergi berkelanjutan antara pemerintah daerah, institusi pertahanan, keamanan, dan lembaga keuangan menjadi kunci utama agar kedaulatan Rupiah dapat benar-benar dirasakan sebagai fondasi kemajuan ekonomi masyarakat di wilayah terluar sekalipun.

Kepala perwakilan bank Indonesia Sulawesi Tengah berharap pelaksanaan Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 berjalan aman, lancar, dan memberikan dampak berkelanjutan bagi stabilitas ekonomi lokal serta penguatan persatuan bangsa di wilayah Sulawesi Tengah.(cK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *