Buya Subi Festival 2026 Resmi Dibuka, Dorong Tenun Donggala Menuju Pasar Global dan Industri Fesyen Berkelanjutan

Berita, Donggala35 Dilihat

Donggala, Majalahsinergitas.id – Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reni A Lamadjido, Sp.PK., M.Kes secara resmi membuka Buya Subi Festival Tahun 2026 yang berlangsung di Kawasan Wisata Pantai Karampuana, Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Selasa (7/7/2026). Kegiatan ini dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Donggala Dr. H. Rustam Efendi yang mewakili Bupati Donggala Vera Elena Laruni.

Turut hadir dalam acara ini perwakilan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Duta Besar Spanyol, Duta Besar Australia, Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, unsur Forkopimda Provinsi, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) provinsi dan kabupaten, Ketua Dekranasda Provinsi maupun Kabupaten Donggala, Camat Banawa Tengah, kepala desa se-kecamatan, serta tokoh adat, agama, budaya dan masyarakat setempat.

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur menegaskan bahwa Buya Subi Festival bukan sekadar agenda perayaan budaya, melainkan bukti nyata kekayaan nusantara Sulawesi Tengah yang bernilai tinggi, sarat filosofi kehidupan, dan berpotensi menjadi tulang punggung industri fesyen berkelanjutan di tingkat nasional hingga internasional.

“Festival ini menjadi ruang strategis kolaborasi, promosi pariwisata, penguatan UMKM, sekaligus membuka akses pasar seluas-luasnya bagi produk unggulan daerah kita ke kancah dunia,” ujar Wagub Reni. Ia juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah bekerja sama menyukseskan penyelenggaraan tahun ini.

Pendiri Eco Fashion Week Australia, Zuhal Kuvan Mills, menceritakan awal mula ketertarikannya pada tenun khas Donggala ini. Ia pertama kali berkenalan dengan perwakilan Dinas Pariwisata Sulawesi Tengah di Busselton pada tahun 2024, kemudian bertemu kembali di Florence tahun 2025, saat perwakilan daerah membawa contoh kain tenun Buya Subi.

“Selama ini saya mengenal Indonesia melalui batik, namun Buya Subi memberikan kesan yang sangat berbeda. Kain ini tak hanya memancarkan keindahan visual, tetapi menyimpan kisah hidup, kearifan lokal, dan warisan budaya Suku Kaili yang diwariskan turun-temurun,” ungkap Zuhal.

Ketertarikan tersebut kemudian melahirkan Proyek Buya Subi, yang kini berkembang menjadi inisiatif serius dan telah didaftarkan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam program Women, Fashion and Lifestyle.

Sekretaris Daerah Kabupaten Donggala Dr. H. Rustam Efendi menyatakan, festival ini adalah wujud nyata komitmen pemerintah daerah bersama pengrajin, pelaku industri kreatif, dan mitra nasional maupun internasional untuk terus melestarikan warisan tenun Donggala yang telah memiliki sertifikasi Indikasi Geografis.

“Tenun Buya Subi bukan sekadar produk kerajinan, melainkan identitas budaya sekaligus kebanggaan Kabupaten Donggala. Kami berharap festival ini memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, membuka peluang usaha bagi UMKM lokal, meningkatkan daya tarik wisata, dan menjaga warisan ini tetap hidup serta dikenal dunia,” jelas Sekda Rustam.

Ia juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah atas dukungan yang telah menjadikan Desa Towale sebagai desa wisata unggulan, serta menetapkan Buya Subi sebagai agenda tahunan hingga tahun 2030 demi peningkatan kesejahteraan masyarakat Donggala.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan penyerahan piagam penghargaan dan suvenir oleh Wakil Gubernur didampingi Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah kepada perwakilan model dan desainer, sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi mereka dalam mempromosikan tenun Buya Subi.

Puncak acara ditutup dengan kemeriahan Sunset Fashion Show yang menampilkan 55 karya busana dan dihadirkan oleh 18 model, menampilkan pesona tenun tradisional yang dikemas dengan gaya kekinian di tepian Pantai Karampuana.(Alir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *