Buku “Hikayat Tanah Donggala” Diluncurkan, Melestarikan Pusaka Tutur dan Kearifan Lokal

Berita, Donggala16 Dilihat

Donggala, Majalahsinergitas.id – Donggala bukan sekadar wilayah pesisir di Sulawesi Tengah, melainkan ruang peradaban yang kaya akan tradisi, kisah lisan, serta nilai-nilai kearifan lokal. Jauh sebelum sejarah tercatat secara tertulis, para leluhur telah mewariskan etika hidup dan ingatan kolektif melalui tradisi tutur yang berjalan berkelanjutan dari generasi ke generasi. Kekayaan budaya inilah yang dituangkan secara tertulis dalam buku antologi “Hikayat Tanah Donggala”, yang resmi diluncurkan bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke‑81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan dan Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Donggala, Herlina, S.H., M.H., menyampaikan pada Senin (17/8/2026) bahwa buku ini lahir sebagai hasil karya peserta kegiatan Bimbingan Teknis Kepenulisan yang diselenggarakan oleh instansinya. Buku ini mengajak pembaca menyelami kekayaan budaya lokal melalui tiga bagian utama: Pusaka Tutur dan Legenda, yang memuat kisah seperti Batu Berdarah serta tradisi Tombilo; Riak Sejarah Pesisir, yang mengulas jejak kejayaan pelabuhan masa lalu hingga kisah Pulau Levuto; serta Ritual Sakral dan Kearifan Leluhur, yang menampilkan kepercayaan Buya Sabe, tradisi Nosuna, hingga kekayaan kuliner khas daerah.

“Buku ini hadir sebagai jembatan ingatan: merawat warisan masa lalu, meneguhkan identitas hari ini, serta mewariskan kekayaan literasi yang berharga bagi generasi mendatang,” ujar Herlina.

Dalam acara peluncuran, naskah diserahkan secara resmi oleh penulis sekaligus Ketua Forum Taman Baca Masyarakat Kabupaten Donggala periode 2023–2028, Mahfud, S.Pd. (yang menggunakan nama pena Mahfud Alkhaery), kepada Pemerintah Kabupaten Donggala untuk selanjutnya dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Penyerahan disaksikan oleh Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Moh. Amir, S.S., M.Pd., serta Herlina selaku penyelenggara kegiatan sekaligus tim penyunting buku.

Herlina menegaskan bahwa karya ini merupakan kumpulan pusaka tutur dan nilai kearifan lokal yang masih hidup di tengah masyarakat Donggala. Namun, yang tertuang dalam buku ini hanyalah sebagian kecil dari kekayaan yang tersimpan. Masih banyak cerita rakyat, catatan sejarah, dan nilai kehidupan lain yang tersimpan dalam ingatan warga dan terancam hilang perlahan tergerus waktu. Jika tidak segera dituliskan dan dirawat, dikhawatirkan generasi mendatang tidak lagi mengenal warisan leluhurnya sendiri.

“Oleh karena itu, sangat penting untuk terus membina, mendorong, dan memberi ruang bagi para pegiat serta pemerhati literasi agar senantiasa menghidupkan dan mengembangkan khazanah hikayat Donggala. Hal ini dapat menjadi bahan edukasi berharga bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda penerus bangsa. Dukungan serta kebijakan pemerintah yang berkelanjutan terhadap kegiatan pembinaan kepenulisan patut menjadi perhatian bersama ke depannya,” pungkas Herlina.(Alir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *