Palu, Majalahsinergitas.id – Sulawesi Tengah (Sulteng) tetap menjadi salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi se-Indonesia dan berhasil mengendalikan inflasi setelah sempat menjadi sorotan internasional.
Nilai tukar rupiah yang semula berada di level 16,9 pada seminggu sebelum Juli 2017 kini telah membaik menjadi 17,7, menunjukkan perbaikan yang signifikan berkat fundamental ekonomi yang kuat. Indonesia bahkan unggul dibandingkan beberapa negara G20 lainnya yang menghadapi tantangan hukuman ekonomi dan tekanan inflasi.
“Dari sisi hukuman ekonomi, kita berada di peringkat 3 besar di G20 dengan angka di atas 4,5. Konsisten selama 2 tahun terakhir, biasanya posisi kita bersama China dan India, namun kali ini China mengalami koreksi,” ujar Muh. Irfan Sukarna dalam sebuah diskusi santai mengenai perekonomian terkini Sulteng bersama wartawan forjubis.
Dari sisi inflasi, proyeksi internasional mencatat angka 3,3 hingga 3,4 persen untuk Indonesia tahun 2025, sedangkan target pemerintah adalah maksimal 3,5 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan negara seperti China, Turki, Brazil, dan Meksiko yang memiliki inflasi lebih tinggi namun pertumbuhan ekonomi lebih rendah.
“Secara fundamental, ekonomi Indonesia terpanggung kuat. Negara-negara seperti Argentina, Brazil, dan Turki yang sebelumnya memiliki ekonomi di atas kita kini sudah bisa kita tandingi,” jelas KPwBI Sulteng.
Pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2025 diperkirakan mencapai 5,4 persen, dengan sektor-sektor utama yang mendukung termasuk energi dan pasar domestik.
Sulawesi Tengah mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 7,9% pada periode terkini, menjadikannya peringkat kedua tertinggi se-Indonesia. Pertumbuhan ini didorong oleh sektor pengolahan yang menyumbang sekitar 40% dan sektor pertambangan.
Meskipun sebelumnya pernah mencapai angka di atas 10%, pertumbuhan ekonomi Sulteng tetap memiliki landasan yang kuat dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Realisasi proyek pemerintah hingga saat ini mencapai 59%, di mana targetnya adalah 85%. “Beberapa proyek yang akan diekspor ke Jepang baru mencapai 25% realisasinya, namun kita masih bisa menunggu dan berharap akan lebih baik lagi,” ucap Irfa Sukarna.
Pada bulan September dan Oktober 2025, Sulteng sempat menjadi sorotan internasional karena inflasi yang mencapai 3,92% – tertinggi kedua setelah Papua. Penyebab utama adalah kenaikan harga ikan yang sangat dominan, terutama di daerah Toli-Toli.
“Kita adalah daerah produsen komoditas utama seperti ikan, beras, cabai, dan bawang merah. Masalahnya bukan pada pasokan, tapi distribusi yang kurang pas. Misalnya ikan dari Toli-Toli justru dibeli dengan harga tinggi oleh pihak luar sehingga stok di daerah sendiri berkurang,” jelasnya.
Setelah melakukan langkah-langkah penanganan seperti kunjungan ke pasar ikan, penguatan kolam pembesaran ikan, dan komunikasi kepada masyarakat untuk menjaga stabilitas harga, inflasi Sulteng akhirnya berhasil diturunkan menjadi 0,5 persen, sesuai dengan tren di Jawa Tenggara.
Komoditas utama Sulteng seperti beras dari Poso, Sigi, dan Ronggolawe; serta ikan dari Pangkajene dan Toli-Toli juga berpotensi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri bahkan untuk diekspor jika distribusi dapat dikelola dengan lebih baik.(*)
Sulteng Raih Peringkat 2 Dengan Inflasi Terkendali












