Sejarah, Kesehatan, dan Identitas Budaya: Tiga Pilar Aspirasi Reses Candra Sunusi di Desa Kaleke

Berita, Sigi7 Dilihat

Sigi, Majalahsinergitas.id — Kantor Desa Kaleke, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, menjadi ruang dialog yang sarat makna selama dua hari, 19–20 Agustus 2026. Anggota DPRD Kabupaten Sigi, Candra Sunusi, hadir langsung di tengah masyarakat dalam kegiatan reses — momen strategis untuk menyerap aspirasi yang tidak hanya menyentuh aspek pembangunan fisik, tetapi juga pelestarian ingatan sejarah, peningkatan pelayanan dasar, serta penguatan identitas budaya sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.

Pertemuan ini mengungkapkan bahwa pembangunan yang diharapkan warga Desa Kaleke bersifat menyeluruh: dari menjaga warisan leluhur, memastikan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak, hingga memperkuat jati diri masyarakat melalui pelestarian tradisi.

Salah satu aspirasi yang mendapat penekanan adalah pembangunan dan penataan makam tokoh perjuangan di Dusun III, termasuk pemasangan papan informasi/nama di lokasi tersebut. Bagi masyarakat, situs ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan bagian dari ingatan kolektif daerah yang harus dijaga dan dikenalkan kepada generasi penerus. Penataan makam ini juga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daya tarik pariwisata berbasis sejarah dan budaya lokal, sekaligus menjadi sarana edukasi bagi generasi muda tentang perjuangan para pendahulu daerah.

Di sektor pelayanan dasar, warga menyampaikan kebutuhan mendesak perbaikan plafon Posyandu Dusun III. Posyandu memiliki peran strategis dalam sistem pelayanan kesehatan tingkat pertama, terutama dalam pemantauan tumbuh kembang balita, imunisasi, dan pelayanan kesehatan ibu hamil. Perbaikan sarana fisik diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan sekaligus kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat, yang selanjutnya diarahkan untuk mendapat perhatian melalui Dinas Kesehatan.

Selain itu, masyarakat mengusulkan pengadaan pakaian adat bagi tokoh adat Desa Kaleke. Hal ini dinilai penting untuk menjaga kelestarian tradisi, memperkuat identitas budaya masyarakat, serta mendukung pelaksanaan kegiatan adat dan upacara resmi yang menjadi perekat sosial warga setempat. Pengadaan tersebut juga dipandang sebagai bagian dari upaya mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Menanggapi berbagai usulan tersebut, Candra Sunusi menyampaikan apresiasi atas partisipasi aktif masyarakat dalam menyampaikan kebutuhan secara langsung. Ia menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak dapat diukur semata dari infrastruktur fisik, melainkan juga mencakup pelestarian nilai sejarah, kebudayaan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.

“Aspirasi masyarakat yang disampaikan dalam reses merupakan masukan penting bagi kami sebagai wakil rakyat. Semua usulan akan kami catat dan inventarisasi untuk selanjutnya diperjuangkan sesuai mekanisme, kewenangan, skala prioritas dan kemampuan keuangan daerah,” ujar Candra Sunusi.

Seluruh aspirasi yang terhimpun selanjutnya akan menjadi landasan dalam menjalankan tiga fungsi utama DPRD: representasi, penganggaran, dan pengawasan. Setiap usulan akan melalui tahap verifikasi, skala prioritas, dan penyesuaian dengan mekanisme perencanaan pembangunan daerah yang berlaku.

Kegiatan reses berlangsung dalam suasana terbuka dan dialogis, memberi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan harapan dan tantangan yang dihadapi sehari-hari. Komunikasi yang terjalin diharapkan dapat memperkuat hubungan antara wakil rakyat dan konstituen, sehingga kebijakan yang dihasilkan benar-benar berakar pada kebutuhan masyarakat.

Di akhir kegiatan, seluruh aspirasi telah tercatat dan diinventarisasi — bukan sekadar catatan, melainkan komitmen untuk diperjuangkan hingga menjadi bagian dari rencana pembangunan Kabupaten Sigi yang berkelanjutan, berkeadilan, dan tetap menghargai warisan leluhur serta jati diri masyarakat.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *