Rapat Dewan Gubernur BI: BI Rate Tetap 5,75%, Perkuat Ketahanan Ekonomi di Tengah Gejolak Global

Berita71 Dilihat

Jakarta, Majalahsinergitas.id — Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung selama dua hari, 22–23 September 2026, memutuskan mempertahankan BI Rate pada level 5,75 persen. Keputusan ini diambil setelah meninjau secara menyeluruh perkembangan ekonomi global dan domestik, serta merumuskan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.
 
Konferensi pers RDG dipimpin langsung oleh Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti, didampingi seluruh anggota Dewan Gubernur: Deputi Gubernur Senior Aida S. Budiman, serta Deputi Gubernur Filihaningsi Hendarta, Riki P. Gozali, Thomas A. M. Jiwandono, dan Solikin M. Juhro.
 
Perekonomian global dinilai masih lemah dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi. Eskalasi ketegangan di Timur Tengah mendorong lonjakan harga minyak dunia yang sempat menyentuh USD132 per barel sebelum turun ke bawah USD100 per barel per 22 September 2026.
 
“Pandangan kami terkait prospek perekonomian global belum kuat, disertai dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi,” tegas Destry.
 
Pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 diperkirakan hanya sekitar 3 persen, disertai tekanan inflasi yang meningkat menjadi sekitar 4 persen. Kebijakan moneter negara maju juga semakin ketat, di mana suku bunga kebijakan The Fed naik menjadi 3,75–4,00 persen per September 2026 dengan potensi kenaikan lanjutan yang masih terbuka. Kondisi ini memperkuat nilai tukar dolar AS dan menahan aliran investasi ke negara berkembang.
 
“Kondisi ini mengharuskan penguatan respon dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” tambahnya.
 
Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap baik dalam rentang 4,9 hingga 5,7 persen pada tahun 2026. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama, didukung stimulus fiskal pemerintah serta membaiknya keyakinan dan ekspektasi pendapatan masyarakat. Investasi juga tumbuh positif, terutama dari belanja pemerintah, meskipun peran investasi swasta perlu terus ditingkatkan.
 
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga baik dan perlu terus didorong dengan mengoptimalkan berbagai sumber pertumbuhan ekonomi,” ungkap Destry.
 
Kinerja eksternal membaik: neraca perdagangan Juli 2026 mencatat surplus USD0,12 miliar setelah sebelumnya mencatat defisit USD0,45 miliar. Aliran modal asing kembali masuk; hingga 21 September 2026 tercatat aliran masuk bersih sebesar USD0,4 miliar, didukung penerbitan obligasi global pemerintah serta permintaan Surat Berharga Negara.
 
Posisi cadangan devisa per akhir Agustus 2026 tetap terjaga di USD146,5 miliar, setara 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri — jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
 
Nilai tukar rupiah pada 22 September 2026 tercatat di Rp17.855 per dolar AS, melemah terbatas 0,78 persen dibandingkan akhir Agustus 2026. Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat upaya stabilisasi.
 
“Nilai tukar rupiah akan bergerak stabil didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, inflasi yang terkendali dalam sasaran, serta prospek perekonomian domestik yang tetap baik,” ujar Destry.
 
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan, naik dari 2,88 persen pada bulan sebelumnya, didorong kenaikan harga pangan seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan beras. Inflasi inti tetap terkendali di 2,92 persen.
 
“Bank Indonesia terus memperkuat respon bauran kebijakan moneter termasuk stabilisasi nilai tukar rupiah agar inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5% plus minus 1% pada tahun 2026 dan 2027,” tegasnya.
 
Pengendalian inflasi juga diperkuat melalui sinergi dengan pemerintah dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP–TPID) serta program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), termasuk mengantisipasi dampak El Nino terhadap harga pangan.
 
Pertumbuhan kredit perbankan pada Agustus 2026 tercatat 13,36 persen secara tahunan, didorong kredit investasi 25,11 persen, modal kerja 11,45 persen, dan kredit konsumsi 5,07 persen. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai 10,94 persen. Ketahanan perbankan tetap kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) 23,84 persen dan rasio kredit bermasalah (NPL) bersih hanya 0,81 persen. Pertumbuhan kredit tahun 2026 diproyeksikan berada dalam kisaran 8–12 persen.
 
Transaksi pembayaran digital juga terus meningkat pesat: volume mencapai 6,11 miliar transaksi atau naik 40,36 persen pada Agustus 2026. Sistem pembayaran instan BIPAS mencatat 549 juta transaksi senilai Rp1.346 triliun, sementara QRIS tumbuh 67,22 persen.
 
“Kami juga ingin menyampaikan kabar gembira — QRIS kita kemarin mendapatkan penghargaan internasional sebagai salah satu pelopor pembayaran lintas negara. Ini bukan hanya kebanggaan Bank Indonesia, melainkan kebanggaan seluruh Indonesia,” ujar Destry.
 
RDG memutuskan mempertahankan suku bunga acuan:
 – BI Rate: 5,75%
– Suku bunga Deposit Facility: 4,75%
– Suku bunga Lending Facility: 6,5%
 
Keputusan ini konsisten dengan strategi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal serta pencapaian sasaran inflasi. Bank Indonesia juga memperluas berbagai insentif untuk menarik aliran modal masuk dan memperkuat ketahanan eksternal, antara lain:
 
– Meningkatkan pengurangan premi instrumen lindung nilai swap dan DNDF bagi pendanaan luar negeri, mencakup investasi portofolio, pinjaman luar negeri perbankan, dan investasi langsung asing
– Memberikan insentif tambahan untuk transaksi mata uang lokal (LCT) dengan negara mitra, termasuk penambahan Singapura sebagai mitra baru
– Melanjutkan kebijakan makroprudensial akomodatif guna mendorong penyaluran kredit ke sektor riil
– Memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah, OJK, dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK)
 
“Bank Indonesia akan terus memperkuat seluruh instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berdaya tahan,” pungkas Destry.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *