Program SSW Kota Palu: Seleksi Ketat, Fokus Kualitas, Bukan Sekadar Kejar Kuota

Berita, Kota Palu15 Dilihat

Palu, Majalahsinergitas.id – Pemerintah Kota Palu melalui lProgram SSW (Specified Skilled Worker atau Tokutei Ginou) Jepang adalah visa kerja legal yang memungkinkan warga asing, termasuk Indonesia, bekerja di Jepang di berbagai bidang industri dengan gaji setara pekerja lokal (sekitar ¥150.000–¥400.000/bulan)  kalau di rupiahkan setara kurang lebih Rp. 16 jutaan sampai Rp. 43 juta perbulan.

Kepala bidang Penempatan Tenaga Kerja (Tentalaker) Dinas Koperasi, UMKM dan Tenaga kerja Kota Palu Fadli di temui di ruangannya kamis, 16/4/2026 menuturkan bahwa pemerintah Kota terus berkomitmen mencetak tenaga kerja profesional yang siap bersaing di pasar kerja Jepang. Program ini bukan sekadar pemberangkatan, melainkan pembekalan keterampilan khusus dengan standar internasional demi kesejahteraan masyarakat.

Dalam wawancara mendalam, narasumber menjelaskan bahwa program ini telah berjalan sejak tahun 2020 atau 2021 dengan target kuota yang bervariasi, namun rata-rata mencapai 20 hingga 25 orang per tahunnya. Meski demikian, pihak penyelenggara kini lebih mengedepankan kualitas daripada kuantitas.

“Dulu saya juga mengejar kuantitas, tapi rupanya kalau terlalu mengejar jumlah, banyak hal yang terlewat. Sekarang kita seleksi betul-betul. Bukan cuma mau coba-coba, tapi memang niatnya untuk bekerja serius. Kalau ada masalah, tidak akan fatal, dan yang penting tidak mencoreng nama baik daerah kita,” ujarnya.

Seleksi Kesehatan dan Karakter Jadi Kunci

Salah satu tahapan paling krusial adalah pemeriksaan kesehatan dan administrasi. Banyak calon peserta yang gugur bukan karena tes fisik berat seperti lari, melainkan karena kondisi medis yang tidak terdeteksi sebelumnya.

“Pemeriksaannya menyeluruh. Misalnya mata minus maksimal 1,75, atau ada riwayat penyakit seperti TBC yang semula tidak diketahui. Kalau sampai berangkat baru ketahuan, bisa membahayakan diri sendiri dan menularkan ke orang lain, nanti malah Kota Palu yang di-blacklist,” tegasnya.

Selain kesehatan, riwayat keuangan atau BI Checking juga sangat diperhatikan. Beberapa kasus pernah terjadi dimana calon peserta bermasalah hanya karena administrasi kendaraan bermotor yang belum selesai, meskipun sebenarnya sudah lunas. Hal ini menjadi perhatian khusus agar tidak ada yang terhambat di tahap administrasi.
 
Terkait biaya, Pemerintah Kota Palu memberikan dukungan maksimal di tahap awal. Peserta akan mengikuti pelatihan di pusat pelatihan yang ditunjuk, baik di Bandung maupun Depok, selama 3 bulan pertama yang menjadi tanggungan program.

“Harapan kita 3 bulan itu sudah selesai prosesnya sampai pemberangkatan ke Jepang. Jika lebih dari itu, biaya menjadi tanggung jawab pribadi atau komitmen sendiri. Namun lembaga mitra kita sudah bekerja sama dengan perbankan, jadi bagi yang kurang mampu bisa difasilitasi, asalkan clear dari catatan buruk,” jelasnya.

Menariknya, peluang bagi perempuan justru sangat terbuka lebar. Permintaan dari perusahaan Jepang terhadap tenaga kerja perempuan sangat tinggi dan prosesnya cenderung lebih cepat.

“Perempuan itu dibutuhkan sekali di sana. Biasanya baru datang langsung diwawancara dan langsung diterima. Kalau laki-laki standarnya agak lebih ketat. Tapi kita tidak bisa buka khusus perempuan saja nanti dibilang diskriminasi,” candanya namun penuh makna.

Fadli berharap Dalam memilih bidang pekerjaan, ada saran khusus yang diberikan agar peserta mendapatkan pemasukan maksimal sepanjang tahun.

“Saya sarankan jangan ambil sektor pertanian. Alasannya sederhana, di sana ada musim dingin yang panjang. Saat musim itu tiba, pekerjaan berhenti, otomatis tidak ada uang masuk, tapi kebutuhan hidup tetap jalan,” paparnya.

Iya mencontohkan beberapa sektor pekerjaan seperti perhotelan, pengolahan makanan, atau perawatan (caretaker). Meskipun proses menunggunya kadang sedikit lebih lama, namun kepastian kerja dan pendapatannya jauh lebih menjanjikan.

“Contohnya bidang makanan, itu enak. Hobi masak tapi dibayar. Atau perawat, itu juga sangat dibutuhkan. Kalau sudah menunggu dan terpilih, hasilnya memuaskan,” tambahnya.

Salah satu pesan terpenting yang selalu ditanamkan adalah soal budaya kerja dan disiplin. Peserta diminta meninggalkan kebiasaan santai ala Indonesia dan beradaptasi dengan aturan ketat di Jepang.

“Jangan bawa kebiasaan di sini ke sana. Di sana itu disiplin tinggi. Awalnya mungkin berat, duduk atau berdiri 8 jam kerja, badan terasa sakit semua. Tapi itu soal ketahanan. Yang penting niat dan tekad kuat,” pungkasnya.

Program ini diharapkan tidak hanya mengubah nasib sang pekerja, tetapi juga keluarga di rumah. Dengan gaji yang layak dan pengalaman internasional, diharapkan para pekerja nanti bisa memiliki modal yang memadai untuk berusaha di negeri sendiri serta membawa kemajuan bagi Kota Palu.(cK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *