BI Sulteng Dorong Hilirisasi Kakao untuk Akselerasi Ekonomi Inklusif

Berita206 Dilihat

Palu, Majalahsinergitas.id – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tengah (Sulteng), Rony Hartawan, dalam Focus Group Discussion (FGD) “Kakao-nomics: Akselerasi Ekonomi Inklusif dan Berkelanjutan Melalui Pengembangan Kakao di Sulawesi Tengah,” menekankan pentingnya hilirisasi kakao untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan pemerintah. Hartawan memaparkan bahwa UMKM memegang peran kunci dalam pencapaian target tersebut, dan pengembangan kakao di Sulteng memiliki potensi signifikan.

Meskipun produksi kakao Sulteng mencapai 145.000 ton per tahun dari lahan seluas 300.000 hektare, 65% tanaman kakao berusia di atas 25 tahun dan membutuhkan peremajaan. Saat ini, pangsa pasar kakao Sulteng masih rendah (1,16%), dan minimnya hilirisasi menjadi kendala utama. Sebagian besar kakao hanya dijual dalam bentuk biji, berbeda dengan komoditas sawit yang telah mengalami hilirisasi lebih lanjut.

Hartawan mencatat nilai perdagangan kakao global yang tinggi (Rp162 triliun), dan potensi peningkatan PAD Sulteng yang signifikan jika hilirisasi kakao dapat ditingkatkan. Harga kakao dunia yang tengah meningkat juga menjadi peluang. BI Sulteng mendorong pengembangan industri pengolahan kakao, termasuk potensi pengembangan “warung coklat” untuk meningkatkan konsumsi domestik.

Tantangan lain yang dihadapi adalah infrastruktur dan pasokan kakao yang terhambat oleh faktor cuaca dan kondisi geografis. BI Sulteng menekankan perlunya strategi hilirisasi yang komprehensif, mulai dari hulu (standarisasi, peningkatan kualitas) hingga hilir (pengolahan dan pemasaran), untuk mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan di Sulteng. Sebagai contoh keberhasilan, Hartawan mencontohkan UMKM di Togean yang telah berhasil mengekspor sabun organik berbahan dasar kelapa ke Kanada.

Sementara itu Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. Reny Lamadjido, dalam sambutannya menekankan pentingnya sinergi antar pemangku kepentingan (Bank Indonesia, Kementerian UMKM, dan Pemerintah Daerah) untuk meningkatkan pengembangan kakao di Sulawesi Tengah. Lamadjido menyoroti inkonsistensi dan kurangnya komitmen di masa lalu yang menghambat pertumbuhan sektor ini.

Lamadjido menyampaikan komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) melalui program “Berani Makmur,” yang akan mencakup pengembangan kakao pada tahun 2026. Target PAD tahun 2025 ditargetkan mencapai Rp5,4 triliun, peningkatan signifikan dari Rp2,3 triliun di tahun 2024.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menetapkan visi pembangunan daerah dengan menjadikan Sulawesi Tengah sebagai wilayah pertanian dan industri yang maju dan berkelanjutan, dengan teknologi ramah lingkungan. Kerjasama dengan sektor swasta dan lembaga pendidikan diharapkan dapat mendukung visi ini. Wakil Gubernur berharap FGD ini menghasilkan rekomendasi konkret untuk pengembangan ekosistem kakao di Sulawesi Tengah, demi terwujudnya Sulawesi Tengah yang makmur dan sejahtera “Sulteng Nambaso” (cK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *