Anggota Komisi I Sigi Nursia Syamsu Minta Rincian Anggaran DPPKB, Kadis Paparkan Upaya Tekan Pernikahan Dini dan Stunting

Berita, Sigi18 Dilihat

Sigi, Majalahsinergitas.id – Dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi I DPRD Kabupaten Sigi dengan mitra kerja Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB), Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (DUKCAPIL), serta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (NAKERTRANS) Kabupaten Sigi, anggota Komisi I Nursia Syamsu, SPd. M.M mengajukan pertanyaan terkait penggunaan anggaran dan program kerja DPPKB.

Diketahui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana(DPPKB) mendapatkan anggaran sebesar 8,6 miliar rupiah untuk tahun 2025 dan Kabupaten Sigi meraih penghargaan atas kemampuannya dalam mengendalikan angka kelahiran pada tahun yang sama. Nursia menyoroti dua isu utama yaitu masih tingginya kasus pernikahan dini yang juga terjadi di beberapa wilayah Sulawesi Tengah, termasuk Kabupaten Sigi, serta angka kematian ibu melahirkan yang masih menjadi perhatian. Ia meminta rincian alokasi anggaran untuk menangani kedua masalah tersebut dan gambaran program keluarga berencana nasional di Kabupaten Sigi ke depannya.

Kepala Dinas PPKB Kabupaten Sigi, Riadin, S. Sos. M. Si, menjelaskan bahwa pernikahan dini memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan angka stunting di daerah. Meskipun urusan pernikahan dini berada di kewenangan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), pihaknya melakukan intervensi melalui kegiatan sosialisasi di sekolah-sekolah dengan program Bimbingan Kesehatan Remaja (BKR) dan Pembinaan Ibu dan Anak Remaja (PIKR).

“Kami menyosialisasikan bahwa pernikahan dini kurang baik karena alat reproduksi masih belum matang. Tahun 2020 kami tidak memiliki program terkait, namun pada tahun 2025 ada upaya khusus untuk menangani hal ini,” ujarnya.

Untuk mengendalikan angka kelahiran dan kematian ibu, Dinas PPKB lebih fokus pada komunikasi, informasi, dan edukasi kepada calon pengantin serta ibu hamil. Program ini bertujuan memastikan ibu dan anak lahir sehat serta mengurangi risiko stunting.

“Ke depannya, program kami masih konsisten dengan yang sudah berjalan, dengan mengedukasi masyarakat tentang konsep 4T atau 4 Terlalu”jangan kawin terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak anak, dan terlalu dekat jarak kehamilan,” jelas Riadin.

Ia menambahkan bahwa penghargaan yang diterima Kabupaten Sigi terbaik 1 kategori inovasi(wilayah) pada kegiatan Apresiasi sinergi, Inovasi dan Komitmen KB pasca persalinan. Menjadi bukti komitmen dan kolaborasi dalam menghadirkan inovasi untuk keluarga berkualitas.
Ini berasal dari capaian program KB yang berhasil menjaring 2.688 peserta pada tahun 2025, yang membantu masyarakat dalam mengatur jarak kehamilan dengan baik.(cK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *