Palu, Majalahsinergitas.id – Proyek drainase di Kelurahan Pengawu, Palu, berubah jadi mimpi buruk bagi warga. Ketiadaan plat deket membuat akses kerumah menjadi terhambat. Alasan anggaran terbatas tak bisa di Terima, karena perencanaan proyek di duga serampangan dan tak memprioritaskan kepentingan masyarakat. Benarkah ada yang lebih penting dari kemudahan warga dalam proyek ini?
Warga Pengawu kini merasa seperti “terisolasi” akibat proyek yang tak memperhitungkan kebutuhan mereka. “Bagaimana kami mau lewat? Dulu ada akses, sekarang harus melompat atau memutar jauh,” keluh salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Pihak pelaksana proyek, CV. BALAESANG MANDIRI, melalui PPTK Ibu Deby Shanti, ST, MT, berdalih bahwa ketiadaan plat deker adalah demi memaksimalkan volume drainase karena keterbatasan anggaran yang berasal dari pokok pikiran (pokir). Alasan ini sontak menuai kritik pedas.
“Alasan klasik! Kepentingan masyarakat seharusnya jadi prioritas utama. Jangan hanya mengejar volume, tapi mengorbankan hak warga,” ujar seorang sumber terpercaya yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan, perencanaan proyek terkesan asal-asalan dan tidak mempertimbangkan kondisi lapangan.
Sumber tersebut juga menyoroti dimensi drainase yang dianggap tidak sesuai kebutuhan. “Kalau dari awal diukur dengan benar, tidak perlu drainase sebesar itu. Ini seperti ada yang ‘kejar setoran’,” sindirnya.
Seorang konsultan yang juga enggan disebut namanya menambahkan, seharusnya anggaran pembuatan plat duiker untuk jalan yang dipotong drainase dialihkan untuk akses ke rumah warga. “Debit air tidak seberapa, outlet yang ada sudah cukup. Ini malah bikin masalah baru,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak CV. Balaesang Mandiri belum memberikan keterangan resmi. Namun, polemik ini menjadi bukti bahwa proyek pembangunan harus direncanakan dengan matang, transparan, dan mengutamakan kepentingan masyarakat. Jangan sampai proyek yang seharusnya membawa manfaat, justru menjadi “bencana” bagi warga. (cK)






